Showing posts with label William. Show all posts
Showing posts with label William. Show all posts

Saturday, April 23, 2011

Pernikahan Pangeran William-Kate Middleton, Mahal?

Minggu, 24 April 2011 - 10:26 wib

CINTA menjadi sangat mahal ketika melibatkan keluarga kerajaan. Pangeran atau putri kerajaan menghabiskan miliaran dolar untuk pernikahan. Terbaru adalah pasangan Kerajaan Inggris, Pangeran William dan Kate Middleton.

Gaun berlapis emas dan berlian, kue pernikahan setinggi manusia, perayaan yang memakan waktu berhari-hari, dan ratusan ribu bunga adalah gambaran kecil dari betapa mahalnya pernikahan seorang pangeran atau putri raja.

Mahalnya pernikahan anggota keluarga kerajaan bukanlah cerita baru. Pada 19 April 1770, juga tercatat sebagai pernikahan mewah antara putri Marie Antoinette dari Kerajaan Prancis dengan Louis Auguste. Putri Marie saat itu mengenakan gaun yang berlapiskan berlian. Sedangkan pernikahan antara Pangeran Arthur, anak Raja Henry VII dan Ratu Elizabeth, dengan Cahterine dari Aragon juga menghabiskan biaya yang sangat mahal. Meski pernikahan yang berlangsung pada 1501 tidak diketahui secara pasti biayanya, kemewahan bisa dilihat dari gaun yang dijahit dengan benang emas dan pesta pernikahan berlangsung selama dua minggu. Pada 1719, pernikahan Putra Mahkota Friedrich Augustus Saxony dengan Maria Josepha dari Austria juga terbilang mewah karena perayaan pernikahan hampir satu bulan atau 28 hari.

Daily Beast, media di Inggris, menyebutkan terdapat 10 pernikahan anggota keluarga kerajaan yang menelan biaya hingga miliaran rupiah. Pernikahan termahal yang dicatat Daily Beast adalah pada 1468 antara Margaret of York dan Charles the Bold of Burgundy, yang menyatukan Inggris dan Burgundi untuk mengecewakan Raja Louis XI dari Prancis. Pernikahan itu diperkirakan menghabiskan USD325 juta hampir Rp3 triliun (angka disesuaikan dengan nilai saat ini).
Perayaan ini juga termasuk pertarungan empat hari antara ksatria-ksatria paling kondang di Eropa dan sebuah mahkota bertahta mutiara dan permata yang dibuat untuk mempelai wanita. Termahal kedua adalah pernikahan Sheikh Mohammed bin Rashid al-Maktoum dari Dubai dan Putri Salama pada awal Mei 1981.

Pernikahan yang digelar tujuh hari ini diperkirakan menghabiskan anggaran USD100 juta atau sekitar Rp900 miliar. Pada pernikahan ini duta besar, pangeran, dan bangsawan serta pejabat dari negara Arab dan Afrika diterbangkan dengan 34 jet pribadi.

“Pernikahan itu masih dianggap sebagai yang termahal di masa modern begitu disesuaikan dengan inflasi,” begitu Daily Beast menuliskan.

Termahal ketiga adalah pernikahan Putra Mahkota Spanyol Felipe dan Letizia Ortiz Rocasolano pada 22 Mei 2004. Diperkirakan, pernikahan yang hanya dua bulan setelah bom teroris yang menewaskan 191 orang di Madrid ini menghabiskan sekitar USD29 juta atau sekitar Rp261 miliar. Lebih dari 1.500 tokoh penting menghadiri upacara pernikahan yang digelar di Katedral Almudena di Madrid.

Sedangkan pernikahan Pangeran William dan Kate Middleton diletakkan pada posisi empat. Biaya pernikahan Pangeran William dengan Kate ini diperkirakan mengalahkan pernikahan orangtuanya, Pangeran Charles dan Putri Diana. Daily Beast menempatkan pernikahan Pangeran Charles dan Putri Diana pada posisi 9 dengan biaya USD5 juta atau Rp45 miliar. “Meski belum angka pasti berapa biaya pernikahan William- Kate, banyak yang memperkirakan pernikahan ini menghabiskan USD16 juta (Rp144 miliar),” tulis Daily Beast.

Biaya pernikahan Pangeran William dan Kate Middleton menjadi salah satu topik bahasan menarik menjelang pernikahan pada 29 April. Sayangnya biaya besar tersebut diambil dari uang rakyat, bukan dari kekayaan keluarga kerajaan. Bahkan, Daily Mail menyebut bahwa biaya pernikahan Kate-William paling mahal dalam sejarah Inggris dengan menghabiskan 20 juta poundsterling (Rp284,99 miliar).

Globe and Mail malah memprediksi biaya yang harus dikeluarkan untuk pernikahan itu mencapai USD78 juta (Rp673,14 miliar). Padahal, menurut salah satu kajian, rata-rata pernikahan orang Inggris hanya membutuhkan biaya USD29.000 (Rp250 juta). Dikabarkan, biaya itu di luar biaya pengamanan yang dilakukan oleh polisi dan aparat keamanan menyusul adanya ancaman serangan terorisme dalam pesta penikahan itu.

Padahal, Inggris belum lepas sepenuhnya dari krisis ekonomi. Tetapi, kerajaan justru menggelar pesta pernikahan yang sangat mewah. Meski keluarga kerajaan memiliki kekayaan hingga miliaran dolar, tetap saja pernikahan itu dianggap banyak pihak sebagai sebuah ironi. Ditambah lagi, Press TV melaporkan, deklarasi pada 29 April sebagai hari libur nasional itu telah merugikan ekonomi Inggris sekitar USD9,6 miliar atau Rp86,4 triliun. Sedangkan Konfederasi Industri Inggris memperkirakan kerugian ekonomi akibat libur itu mencapai USD6,4 miliar atau Rp57,6 triliun. Angka yang tidak sedikit dalam menggerakkan ekonomi rakyat Inggris. Dalam beberapa bulan lalu Inggris menghadapi serangkaian aksi demonstrasi anti-pemerintah. Mereka mengkritik penghematan yang dilakukan pemerintah.

Masyarakat menolak penghematan itu karena berdampak dengan penutupan banyak fasilitas dan pelayanan publik. Sangat ironis ketika Pemerintah Inggris saat ini justru mendukung pernikahan kerajaan dengan biaya besar. Meski banyaknya protes, pemerintah bersikeras untuk tidak mengubah biaya pernikahan. Faktanya, banyak masyarakat menghadapi pengangguran tetapi pasangan kerajaan itu justru menghabiskan jutaan dolar uang pajak rakyat demi gengsi pernikahan yang mewah dan tidak dilupakan sejarah. Tapi, ada pihak yang mengklaim kalau biaya pernikahan itu dikeluarkan oleh Ratu Elizabeth yang memiliki kekayaan USD455 juta.

Kantor Pangeran Charles, ayah William, menyebutkan pihak keluarga kerajaan akan menanggung biaya yang berkaitan dengan pernikahan, mulai dari bunga, resepsi, transportasi.

“Semua itu akan dibayar oleh keluarga kerajaan dengan kontribusi dari keluarga Middletons,” demikian keterangan Clarence House. Juru Bicara Istana St James juga menyatakan, Ratu Elizabeth dan Pangeran Charles akan ikut berkontribusi pada biaya pernikahan William-Kate.

“Ini akan menjadi kontribusi keluarga namun belum ada keputusan akhir yang dibuat. Jika resepsi diadakan di istana, Ratu akan membayarnya,” ujar juru bicara Istana St James.

Kenyataannya, keluarga pengantin perempuan yang memiliki perusahaan penyuplai pesta tidak dianggap sebagai orang dari kalangan yang mapan. Tetapi, mereka harus mengeluarkan biaya senilai USD157.000 untuk hotel, gaun pengantin, dan bulan madu. Gaun yang bakal dipakai Kate memiliki harga sekitar USD47.000 dan pakaian untuk pasangan pria senilai USD31.000.

The Sunday Times melaporkan, keluarga Kate juga akan membayar beberapa kamar di Hotel Goring di kawasan kelas atas London, distrik Belgravia. Di hotel itu akan disewa lima kamar hotel yang terdiri atas dua kamar tidur bagi Kate dan adiknya, Pippa, serta pendamping pengantin perempuannya.

Carole dan Michael serta putra mereka James, adik laki-lakinya, juga dilaporkan menginap di hotel itu, tidak jauh dari Istana Buckingham untuk mempersiapkan pernikahan pada 29 April di gereja Westminster Abbey di London. Sebenarnya keluarga Middleton mendapatkan jutaan poundsterling dari bisnis barang pesta mereka.

sumber : okezone

Sunday, April 3, 2011

Pangeran William Pun Pernah ke Maratua

Senin, 4 April 2011 | 09:02 WIB

Titik-titik menyelam di Indonesia sangat banyak dan terkenal di seluruh dunia. Malah seringnya, orang asing lebih banyak yang berwisata ke titik-titik menyelam tersebut dibanding orang Indonesia. Apalagi beberapa resor yang tersedia di area itu dikelola oleh pihak asing.

"Seperti di Maratua Island, Pangeran William pernah di sana selama dua minggu," kata Tunjung Rukmo dari PT. Mitra Kaltim Resources Indonesia, yang ditemui Kompas.com pada pameran Deep & Extreme Indonesia 2011 di JCC Jakarta, Jumat (1/4/2011).

Perusahaan ini sedang membangun resor bintang lima di Pulau Maratua dan rencananya rampung di tahun 2012. Jika ini terjadi, maka resor tersebut menjadi satu-satunya milik Indonesia.

Menurut Tunjung, sudah ada dua resor di Pulau Maratua namun kepemilikan pihak asing. Pulau Maratua berada di Kepulauan Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Pihaknya bersama pemerintah daerah ikut serta dalam pameran untuk lebih memperkenalkan Derawan sebagai destinasi wisata bahari.

"Kita bantu untuk mengenalkan Derawan. Banyak yang bilang orang Jakarta nggak milih ke Derawan karena jauh. Padahal lebih dekat ke Derawan daripada ke Bunaken," ungkap Tunjung.

Ia menuturkan daya tarik Derawan adalah cukup menyelam dua meter maka pemandangan bawah laut sudah bisa dinikmati. Selain itu, penyu dan ubur-ubur air payau menjadi daya tarik tersendiri.

"Penyu migrasi 25 tahun dan balik lagi ke Maratua sebagai tempat makan dan bertelur. Kalau di tempat lain hanya untuk bertelur saja atau makan saja. Tapi di Maratua keduanya," tuturnya. Sedangkan Pulau Kakaban menjadi rumah dari ubur-ubur air payau. Menurut Tunjung, ubur-ubur jenis ini hanya ada di Indonesia. Ciri khasnya adalah terbalik dan bila tersentuh tidak gatal.

Menurut Tunjung, pihaknya ingin agar resor yang tengah dibangun dapat terjangkau untuk orang Indonesia. Tunjung mengakui wisatawan domestik masih sedikit yang ke Kepulauan Derawan dibanding wisatawan asing.

Wakatobi dan Togean

Sama halnya seperti di Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Lokasi menyelam di Wakatobi memang sudah tenar di seantero dunia. Namun, menurut Monica dari Tomia Dive Centre, wisatawan asal Indonesia masih sedikit. Padahal Wakatobi sebagai destinasi wisata sebenarnya sudah lama.

"Buktinya ada resor yang sudah ada dari 10 tahun lebih. Sayangnya baru sekarang mulai gencar promosi ke orang kita sendiri. Orang Indonesia belum banyak kenal," katanya. Karena itu, pihak kabupaten Wakatobi juga ikut serta dalam pameran Deep & Extreme 2011.

Satu lagi destinasi wisata menyelam di Indonesia yang ikut dalam pameran tersebut adalah Togean, Sulawesi Tengah. Menurut Direktur Togean Dives Resort, Jafar M. Amin, potensi wisata Togean sangat tinggi. Ia mengakui masih lebih banyak orang asing daripada orang Indonesia yang berwisata ke Togean.

"Akupansi resor untuk warga Indonesia hanya ada 4 persen, selebihya dari Eropa, Australia, Amerika, Jepang, dan Singapura," katanya.


sumber : Kompas